EKSISTENSI PEREMPUAN BERTUBUH GEMUK XTRA-L COMMUNITY DALAM KOMUNIKASI KELOMPOK (Studi Kualitatif Pendekatan Fenomenologi dan Interaksi Simbolik pada Perempuan Gemuk dalam Komunitas Xtra-Large Bandung )

Oleh admin pada 20/02/2015


Image (224)

Wina Meisari
Abstrak
Media massa tidak pernah berhenti menggambarkan sosok dan peran wanita dalam kehidupan masyarakat. Pemberitaan tentang perempuan dengan mudah ditemukan hampir di semua media massa baik itu media massa cetak, elektronik, dan online. Fenomena mengenai orang-orang bertubuh gemuk, memberikan warna tersendiri dalam lingkungan masyarakat. Namun pandangan akan perempuan gemuk acap kali menghasilkan hal-hal yang negatif termasuk pemaknaan cantik bagi mereka yang memiliki tubuh gemuk. Terbentuknya komunitas Xtra-Large sebagai langkah eksistensi perempuan-perempuan gemuk dalam mendobrak mitos cantik yang selalu digembor-gemborkan bahwa cantik itu langsing.
Hasil penelitian menunjukkan konsep diri perempuan gemuk memaknai gemuk dengan interpretasi netral dan interpretasi negatif. Sementara makna cantik dimaknai dengan nilai positif. Interaksi internal komunitas Xtra-Large menunjukkan interaksi positif seperti dukungan dan motivasi untuk tetap percaya diri akan tubuh gemuk. Interaksi ekternal komunitas (lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat) menunjukkan interaksi negatif. Nilai-nilai yang diperoleh dalam komunitas Xtra-Large menunjukkan nilai positif karena menumbuhkan kepercayaan diri bagi eksistensi perempuan-perempuan gemuk, selain itu sebagai wadah suporting group bagi orang yang memiliki tubuh gemuk.
Kata Kunci: Komunikasi Kelompok, Interaksi Simbolik, Perempuan, Gemuk,
Komunitas Xtra-L
PENDAHULUAN
Ibrahim dan Suranto (1998:viii) mengatakan dalam media massa citra perempuan dieksploitasi dalam teknik representasi yang hanya menguatkan distorsi dalam sosoknya tidak jauh di seputar body and beauty. Dalam berbagai disiplin ilmu sosial, termasuk ilmu komunikasi psikologi, teori feminis dan sosiologi juga telah mengkaji persoalan tubuh perempuan. Kepustakaan psikologi mengupas banyak penelitian empirik mengenai citra tubuh kaum wanita. Beberapa sosiolog mengemukakan bahwa perhatian yang meningkat terhadap tubuh sebagai alat ekspresi individu mencerminkan hubungan erat yang baru antara tubuh dan identitas diri dalam kehidupan sosial mutakhir (Shaw dalam Mulyana & Solatun, 2007:312).
Hardy dan Hayes (1988) mengatakan citra tubuh adalah sebagian dari konsep diri yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik dan merupakan evaluasi individu mengenai dirinya sendiri. Kesadaran dan penerimaan individu terhadap tubuhnya merupakan aspek utama dari citra tubuh. Honigman dan Castle (2007) dalam bukunya yang berjudul Living with Your Looks mendefinisikan citra tubuh sebagai gambaran mental seseorang terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya, bagaimana orang tersebut akan mempersepsikan dan memberikan penilaian terhadap apa yang dia pikirkan dan rasakan terhadap ukuran dan bentuk tubuhnya, serta bagaimana kira-kira penilaian orang lain terhadap dirinya. Apa yang dia pikirkan dan rasakan belum tentu benar-benar dapat merepresentasikan keadaan yang sebenarnya, namun lebih merupakan hasil penilaian diri yang subyektif.
Citra tubuh merupakan salah satu aspek yang dapat dikonstruksi, apalagi bagi perempuan kini yang mementingkan kecantikan fisik dan media pun turut mengkonstruksi perempuan cantik sebagai perempuan yang berkulit putih, berambut lurus, dan bertubuh langsing. Namun pada kenyataannya, sebagian perempuan yang ada dalam masyarakat tidak semua memiliki kriteria-kriteria tersebut. Lantas apakah jika tidak memenuhi kriteria itu perempuan tidak bisa dikatakan cantik?
Konstruksi dapat dimanipulasi dan dibentuk oleh masing-masing individu, Eriyanto (2004:13-15) dalam bukunya Analisis Framing: konstruksi, ideologi dan politik media, mengatakan setiap orang bisa mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas dasar suatu realitas. Setiap orang yang mempunyai pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu akan menafsirkan realitas sosial itu dengan konstruksinya masing-masing.
Seiring dengan perkembangan zaman dan ditunjang dengan berubahnya gaya hidup, menyebabkan semakin banyaknya orang bertubuh gemuk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada tahun 2005 secara global ada sekitar 1,6 miliar orang dewasa yang kelebihan berat badan atau overweight dan 400 juta di antaranya dikategorikan obesitas (www.kompas.com, diakses 7 Mei 2013).
Namun dengan hadirnya fenomena mengenai orang-orang bertubuh gemuk, memberikan warna tersendiri dalam lingkungan masyarakat, yang lambat laun membantahkan asumsi bahwa perempuan cantik itu langsing atau perempuan langsing itu modis. Realitasnya Justru kini banyak perempuan yang memiliki tubuh gemuk tapi tetap cantik plus modis.
Tetapi konstruksi yang diciptakan oleh sistem budaya (pop culture) dan budaya massa (mass culture), pada kenyataannya selalu menghagemoni pemikiran masyarakat bahwa perempuan yang cantik itu langsing (slim is beautiful). Pemikiran itu tidak terlepas dari kuasa-kuasa yang ingin diperoleh sebagian produsen untuk mencari keuntungan, namun di sisi lain memberikan citra negatif bagi perempuan yang mempunyai tubuh gemuk, khususnya di Indonesia labeling langsing itu cantik yang sering kali diterapkan.
Apabila meilhat dari kebudayaan negara lain, negara Maurita di bagian Afrika Barat, justru menganggap obesitas sebagai lambang kecantikan, kekayaan dan kemakmuran. Oleh karena itu, wanita-wanita muda Maurit sering meminum susu unta untuk menaikkan berat badannya. Sedangkan di negara Timur Tengah seperti Kuwait menilai positif pada wanita bertubuh gemuk. Di negara penghasil minyak itu, wanita gemuk dianggap sebagai lambang kemakmuran dan kesehatan (www.Sindoweekly.com, diakses 7 Mei 2013)
Terlepas dari diskriminasi atau celaan yang diterima oleh perempuan yang bertubuh gemuk, pada dasarnya setiap manusia memiliki kemampuan masing-masing untuk berprestasi. Perempuan berbadan gemuk pun jangan selalu dikaitkan dengan hal yang bersifat negatif, sehingga akan berdampak pada citra yang buruk di masyarakat. Seperti halnya dengan kehadiran komunitas Xtra-Large yang didirikan oleh perempuan-perempuan gemuk di Indonesia dan lantas tidak membuat mereka malu atau minder. Justru mereka mulai berani menunjukkan eksistensinya dalam masyarakat.
Fokus dalam penelitian ini yakni pada realitas akan keberadaan perempuan gemuk Xtra-L Community yang mampu bertahan (eksis) meski berada dalam tatanan sosial masyarakat yang terkadang memandang sebelah mata akan keberadaan mereka. Atas latar belakang tersebut, bagaimana eksistensi perempuan bertubuh gemuk Xtra-L community dalam komunikasi kelompok. Bagaimana pula konsep diri perempuan bertubuh gemuk di komunitas Xtra-L dalam mengkonstruksi makna gemuk dan cantik, bagaimana interaksi perempuan bertubuh gemuk komunitas Xtra-L dalam lingkungan internal dan eksternalnya. Selain itu melihat nilai-nilai apa saja yang diperoleh perempuan gemuk di komunitas Xtra-L.
IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan maka dapat dihimpun permasalahan yang akan diajukan sebagai berikut:
1. Bagaimana perempuan bertubuh gemuk komunitas Xtra-L mengkonstruksi makna gemuk dan cantik?
2. Bagaimana interaksi perempuan bertubuh gemuk komunitas Xtra-L dalam lingkungan internal komunitasnya?
3. Bagaimana eksistensi perempuan bertubuh gemuk komunitas Xtra-L dalam interaksi di lingkungan eksternal?
4. Nilai-nilai apa saja yang diperoleh perempuan gemuk dalam komunitas
Xtra-L?
TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Perempuan bertubuh gemuk komunitas Xtra-L dalam mengkonstruksi makna gemuk dan cantik.
2. Interaksi perempuan bertubuh gemuk komunitas Xtra-L dalam lingkungan internal komunitasnya
3. Eksistensi perempuan bertubuh gemuk dalam interaksi dilingkungan eksternal.
4. Nilai-nilai yang diperoleh perempuan gemuk di komunitas Xtra-L.
PEMBAHASAN
A. Pembentukan Konsep Diri, Pemaknaan Gemuk dan Cantik Bagi Perempuan Gemuk Komunitas Xtra-L
Dalam buku Melliana (2013) Menjelajah Tubuh Perempuan dan Mitos Kecantikan, Rice (1990) mengatakan Citra tubuh adalah pengalaman individual tentang tubuhnya, suatu gambaran mental seseorang yang mencakup pikiran, persepsi, perasaan, emosi, imajinasi, penilaian, sensasi fisik, kesadaran, dan perilaku mengenai penampilan dan bentuk tubuhnya yang dipengaruhi oleh idealisasi pencitraan tubuh di masyarakat, dan hal ini terbentuk interaksi sosial seseorang sepanjang waktu dalam lingkungannya yang berubah sepanjang rentang kehidupan dalam responnya terhadap umpan-balik (feedback) dari lingkungan.
Sementara itu konsep diri manusia tidak akan langsung terbentuk secara tiba-tiba karena memerlukan waktu dan proses yang cukup lama untuk memiliki konsep diri yang ajeg. Seperti halnya konsep diri perempuan bertubuh gemuk dalam pengalaman hidupnya sehari-hari, untuk mencapai kata “eksistensi” pasti diawali oleh sebuah proses.
Konsep diri didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan dan penilaian seseorang terhadap dirinya. Baik buruk atau positif negatifnya pandangan kita terhadap diri sendiri, sering kita terapkan konsep diri kita dalam tingkah laku.
Sementara itu William Brooks dalam Sobur (2009:518) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri seseorang ada empat yaitu, self appraisal – viewing self as an object , reaction and responseof others, roles you play – role taking, dan reference groups. Empat faktor ini juga sangat berpengaruh pada konsep diri seseorang. Apabila pengaruhnya positif maka konsep dirinya akan positif juga, tetapi jika yang terjadi sebaliknya maka konsep dirinya akan negatif.
Dalam gambar 3.1 menjelaskan bagaimana pengaruh diri dan lingkungan sekitar saling terkait dalam pembentukan konsep diri perempuan gemuk. Terciptanya konsep diri positif dan negatif dari perempuan gemuk tergantung dari mereka menilai dirinya sendiri secara personal maupun pandangan lingkungan. Perempuan gemuk komunitas Xtra-Large yang memiliki konsep diri negatif adalah: Pertama, memandang gemuk sebagai hal yang negatif, secara kesehatan merupakan berat badan melebihi normal, secara estetika penampilan tubuh kurang baik, secara kejiwaan merasa terbebani akan tubuh gemuknya.
Kedua, berani melakukan diet, baik diet sehat yang sesuai aturan kesehatan atau diet tidak sehat seperti mengkonsumsi obat-obatan pelangsing atau menjalani beberapa terapi untuk penurunan berat badan. Ketiga, selau mengkaitkan segala permasalahan hidup dikarenakan tubuh gemuk, baik itu ketika mencari pasangan hidup, bekerja dan bersosialisasi dengan orang lain. Keempat, menganggap bahwa lingkungan di sekitar tidak menyukai dirinya, dikarenakan tubuh gemuk bagi perempuan adalah suatu hal yang buruk dan tidak enak dipandang.
Selain konsep diri negatif, terdapat pula konsep diri positif yang dimiliki oleh perempuan gemuk dalam komunitas Xtra-Large adalah:
(1) Meski merasa pandangan orang lain dianggap melecehkan tubuh gemuknya namun dengan percaya diri perempuan gemuk komunitas Xtra-Large berbesar hati bersikap dan bertingkah laku baik kepada orang lain.
(2) Mempunyai anggapan bahwa cantik bukan sekedar cantik dalam segi tampilan atau fisik. Cantik dimiliki semua perempuan, dan cantik dapat diitunjukan dari personality yang baik pula.
(3) Memiliki sikap extrovert di mana perhatiannya diarahkan ke luar dari dirinya. lancar dalam berbicara, mudah bergaul, tidak malu mudah menyesuaikan diri, ramah dan suka berteman.
Setelah menemukan konsep diri dari perempuan gemuk, analisis dilanjutkan untuk mengetahui pemaknaan gemuk bagi perempuan gemuk komunitas Xtra-L. Hasilnya, gemuk dipandang sebagai hal yang negatif dikarenakan gemuk sebagai sumber masalah, gemuk dikucilkan seolah mendapat tempat tersendiri seperti hinaan celaan oleh orang lain. Selain itu interpretasi netral dalam memaknai gemuk dikemukakan beberapa informan yang memandang gemuk sebagai kondisi berat badan melebihi normal dan secara kesehatan kurang baik. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 3.2 dimana interpretasi terbentuk dari pengalaman tubuh gemuk yang dialami oleh beberapa informan.
Sementara itu konstruksi cantik yang tercermin dalam penampilan fisik pada dasarnya dipatenkan dan dianut bersama oleh masyarakat bahkan digembor-gemborkan oleh berbagai negara.